Dilema Buruh dan Ojol: Antara Asap Dapur dan Risiko Corona

Dilema Buruh dan Ojol: Antara Asap Dapur dan Risiko Corona

Imbauan Presiden Joko Widodo soal bekerja, belajar, dan beribadah di rumah untuk pencegahan penularan virus corona(Covid-19) tak bisa diikuti oleh semua pekerja. Ada kalangan yang harus tetap bekerja di lapangan untuk menjaga agar dapur harus tetap mengepul meski risikonya tertular virus mematikan: corona atau covid-19.

Buruh dan pengemudi ojek online (ojol) adalah dua contoh pekerja yang tidak bisa bekerja di rumah. 

Ketua Pengurus Pusat  Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Nining Elitos mengatakan buruh pabrik masih bekerja seperti biasa di tengah kewaspadaan penularan virus corona. Tak mungkin membawa pekerjaan mereka di pabrik ke rumah masing-masing.

Menurutnya, perlu ada kebijakan dari pemerintah untuk para buruh untuk sementara berhenti bekerja namun dengan tidak mengurangi hak upah dan hak cuti.

"Ketika ini menyangkut keselamatan hidup orang banyak, kenapa hanya para siswa, mahasiswa dan masyarakat diimbau agar bisa di rumah saja, tapi kaum buruh masih tetap beraktivitas," kata Nining

Menurut Nining, kaum buruh juga menghadapi dilema terkait penyebaran virus corona. Di satu sisi, buruh perlu memikirkan keselamatan diri. Namun di sisi lain, kekhawatiran upah dipotong juga menghantui jika mereka tidak bekerja.

"Ketika memang ini mengancam kehidupan rakyat, pemerintah harus mengambil tindakan cepat untuk antisipasi korban berjatuhan termasuk kepada kaum buruh, dan jangan lupa memastikan hak-hak buruh tidak terampas," ujarnya.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Ketenagakerjaan Raden Soes Hindharno sehari sebelumnya mengatakan Kemenaker tengah menggodok aturan khusus bagi perusahaan swasta di sektor manufaktur yang bergantung dengan kegiatan produksi di pabrik.

Pasalnya, alat berat di pabrik tak bisa dengan mudah dibawa pulang agar buruh bisa bekerja dari rumah masing-masing.

Pihaknya akan membuat kebijakan yang sama-sama menguntungkan untuk seluruh pihak. Dengan kata lain, perusahaan manufaktur tak rugi jika sejumlah karyawannya bekerja dari rumah.

"Jangan sampai perusahaan merugi, tutup karena tidak berproduksi. Terus masih harus bayar karyawan. Makanya ini masih digodok dulu khusus untuk perusahaan yang memproduksi itu," jelas Soes.

Selain itu, ribuan buruh pabrik tekstil dan garmen di Kabupaten Bandung hingga Selasa (17/3/2020) masih tetap bekerja di tengah penyebaran ancaman virus Corona atau Covid-19. Di sisi lain mereka tetap khawatir akan menerima dampak dari mewabahnya virus mematikan tersebut.

"Sampai hari Selasa ini, para pekerja atau buruh pabrik tekstil dan garmen masih tetap bekerja dan belum ada penghentian untuk tidak bekerja dari perusahaan masing-masing," terang Ketua Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Kabupaten Bandung, Uben Yunara

Menurut Uben, apakah para buruh pabrik tekstil dan garmen yang mencapai puluhan ribu orang itu harus tetap bekerja atau diliburkan sementara waktu, sampai saat ini belum ada keputusan atau kepastian. Baik dari pihak pemerintah atau para pengusaha.


"Minimal ada rembukan yang dilakukan oleh perwakilan pengusaha/perusahaan dengan pemerintah dan perwakilan buruh. Untuk menentukan sikap dan langkah kedepan terkait penyebaran ancaman virus corona tersebut. Ini penting untuk dilakukan, jangan sampai menunggu ada korban. Ini harus segera dilakukan musyawarah untuk menyikapi perkembangan yang terjadi saat ini," tuturnya.

Uben mengatakan, karena masih banyak pengusaha yang mempertahankan operasional perusahaannya, para pekerja yang bekerja di sejumlah perusahaan disarankan untuk menggunakan masker saat bekerja. Hal itu untuk antisipasi dan pengamanan dari ancaman penyebaran virus Corona.

"Bahkan ada di antara perusahaan yang memasang alat pengukur suhu tubuh para pekerja. Jika diketahui ada pekerja dengan suhu tubuh di atas 37 derajat, disuruh pulang lagi untuk melakukan pemeriksaan dokter," katanya.

Ia mengatakan, jika para buruh diliburkan dari tempat kerjanya dengan alasan penerapan lockdown atau tetap bertahan di rumah bagi para pekerja, terkait upah para pekerja selama berada di rumah pun harus menjadi pertimbangan dan perhatian dari pihak perusahaan maupun pemerintah.

"Apakah pihak perusahaan mau tetap membayar upah buruh, selama diliburkan sementara waktu? Supaya ekonomi para buruh tetap terbantu dan tidak dirugikan. Meski persoalan mewabahnya ancaman virus Corona ini bukan kesalahan pengusaha atau pemerintah, nasib ekonomi para buruh juga harus diperhatikan," katanya.


Ojol Tetap Mengaspal

Lain buruh, lain pula para pengemudi ojek online (ojol). Mereka malah khawatir jika pemerintah menerapkan kebijakan lockdown atau penutupan akses wilayah terdampak virus corona.

Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono saat dihubungi CNNIndonesia.com secara terpisah mengatakan imbauan Jokowi soal beraktivitas di rumah saja berpengaruh pada pendapatan mereka yang mulai berkurang.

"Work from Home (WFH) yang disarankan oleh pemerintah memang mengakibatkan menurunnya jumlah penumpang kami, apalagi jika terjadi lockdown," kata Igun.

Menurut dia, jika kebijakan lockdown diterapkan, maka ojol yang akan terkena dampak signifikan dalam mencari nafkah.

"Kami yang sehari-hari mengandalkan order dari pelanggan, baik penumpang, order pesanan makanan maupun kiriman barang terbatas (jika
diterapkan)," jelasnya.

Dilema Buruh dan Ojol: Kami Tetap Bekerja di Tengah Corona
Igun menyadari, wabah virus corona bukan hal sepele. Pihaknya juga telah mengantisipasi penularan kepada para pengemudi ojol maupun pengguna.

Di antaranya, ia mengimbau agar pengguna ojol mulai membawa helm SNI pribadi. Ini demi mencegah penularan wabah virus tersebut.

Selain itu, Garda juga telah menyiapkan protokol kesehatan ojol untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.

Terdapat 15 poin dalam protokol tersebut, yakni; pengendara ojol diminta menggunakan masker kesehatan/bedah ataupun masker seri N-95, pengendara ojol diminta mengupayakan penggunaan helm SNI berpenutup wajah, menggunakan sarung tangan bersih, menggunakan atribut lengkap tertutup.

Kemudian, menutupi bagian leher dengan buff atau syal, menggunakan sepatu tertutup dan kaos kaki, pengendara ojol juga diminta membawa hand sanitizer dan sabun cair antiseptik.

Protokol itu juga meminta agar pengendara ojol menyiapkan disinfektan untuk mencuci atribut dan perlengkapan lain, atribut ojol tidak langsung masuk ke dalam rumah dan lebih dulu dicuci dengan disinfektan. Berikutnya, para pengendara ojol juga diminta mengupayakan meminum vitamin untuk menambah imunitas.

Selanjutnya, pengendara ojol juga diminta menjaga kebersihan makanan dan minuman yang sehat, rajin cuci tangan dengan sabun cair mengandung antiseptik, menghindari kontak dengan terduga Covid-19, menyiapkan plastik atau kantong khusus untuk menyimpan uang kertas atau logam, dan segera cek kesehatan jika mengalami gejala flu dan batuk.

Sumber :
cnnindonesia.com
galamedianews.com

Komentar