Pemerintah telah menginstruksikan penggunaan masker kepada warganya saat berada di luar rumah, sebagai salah satu upaya pencegahan penularan virus corona.
Bahkan, masker non-medis, seperti masker kain sangat disarankan untuk digunakan.
Sementara penggunaan masker medis, ditegaskan hanya untuk para tenaga medis yang berhadapan langsung dengan penanganan wabah Covid-19 ini.
Anjuran mengenai penggunaan masker bagi seluruh warga itu disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun meminta masker untuk warga betul-betul disiapkan.
"Kemudian karena terakhir saya melihat, membaca bahwa WHO menganjurkan agar semuanya memakai masker, saya minta juga penyiapan masker ini sekarang ini betul-betul disiapkan dan diberikan kepada masyarakat," kata Jokowi .
Jokowi mengatakan WHO awalnya menyarankan penggunaan masker hanya untuk mereka yang sakit. Namun, kata Jokowi, kini semua orang diharuskan memakai masker untuk pencegahan penularan virus Corona.
"Kita ingin setiap warga yang harus keluar rumah itu wajib memakai masker karena di awal WHO menyampaikan yang pakai masker itu hanya yang sakit yang sehat nggak tapi sekarang nggak, semua yang keluar rumah harus pakai masker," ujar dia.
"Mulai hari ini, sesuai dengan rekomendasi dari WHO, kita jalankan masker untuk semua," kata Yuri.
Dia menyampaikan, masker bedah dan masker N95 hanya untuk tenaga medis. Masyarakat bisa menggunakan masker kain yang bisa dicuci.
Yuri mengatakan masker kain maksimal digunakan selama 4 jam. Masker dapat digunakan kembali setelah dicuci bersih menggunakan sabun.
"Kita gunakan maksimal 4 jam dalam sehari, dan kemudian kita cuci kembali dengan air sabun," kata Yuri dalam konferensi pers yang disiarkan melalui akun YouTube BNPB.
Selain membeli, masyarakat bisa membuat sendiri masker dari bahan kain. Yuri kembali menegaskan masker bedah dan masker N95 hanya untuk petugas medis.
"Kita cukup menggunakan masker kain yang bisa kita buat sendiri," ujar Yuri
Kendati demikian, dalam sebuah penelitian di Pusat Epidemiologi WHO di Hong Kong mengungkapkan masker medis terbukti secara signifikan mengurangi jumlah virus yang terdeteksi dalam partikel yang dilepaskan saat bernapas dan batuk.
Penelitian yang diterbitkan jurnal Nature Medicine tersebut menjelaskan bagaiman masker medis dapat mengurangi jumlah virus corona musiman.
Salah satunya virus yang menyebabkan pilek biasa, yang dilepaskan ke udara melalui pernapasan atau batuk.
Namun, dalam penelitian ini tidak mencakup virus corona baru, SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19
Profesor Benjamin Cowling, yang memimpin penelitian tersebut menyatakan, perlunya penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah masker dapat secara khusus mencegah penularan SARS-CoV-2.
"Pendapat saya, masker kain tetap memiliki efek. Tetapi mungkin lebih sedikit dari masker medis yang dikenakan dengan benar," imbuh Profesor Cowling.
Meski demikian, sejumlah bukti menunjukkan penyebaran virus corona yang menyebabkan Covid-19 sebagian besar disebabkan penularan virus oleh orang-orang yang tidak menunjukkan gejala (asimptomatik).
Karena itulah yang kemudian mendorong sebagian negara mewajibkan penggunaan masker, dengan asumsi untuk mencegah penyebaran virus corona, SARS-CoV-2.
Yakni sebagai cara untuk mengurangi penularan beberapa jenis virus, termasuk dalam masa pandemi virus corona, Covid-19.
"Mengenakan masker tidak sepenuhnya mencegah penularan (virus). Itu juga tidak berdiri sendiri, perlu kombinasi dengan tindakan lain, seperti social distancing," sambung Beale menanggapi upaya pencegahan penyebaran virus corona dengan penggunaan masker.
Sumber :
Detik.com
Kompas.com
Komentar
Posting Komentar