Indonesia disebutkan akan mendapatkan prioritas akses vaksin Covid-19 yang dibuat China, setelah mendapatkan persetujuan.
Dilansir CNA (12/8/2020), ini menjadi keuntungan bagi Indonesia karena berpartisipasi dalam uji coba tahap akhir pada manusia dari kandidat vaksin produksi Sinovac Biotech, yang merupakan salah satu vaksin di dunia yang memasuki uji klinis fase 3.
"Tentu kita akan mendapat prioritas, itu komitmen mereka," ujar Ketua Uji Klinis Bio Farma Rini Mulia Sari.
Bio Farma merupakan perusahaan farmasi milik negara dan satu-satunya produsen vaksin di Indonesia.
Perusahaan ini bekerja sama dengan Universitas Padjajaran (Unpad) dalam melakukan uji coba di Indonesia.
Uji kandidat vaksin, yang dikenal sebagai CoronaVac, dilakukan pada 1.620 relawan selama enam bulan.
Jika uji coba berhasil, Bio Farma akan memproduksinya di Bandung.
"Juga akan ada transfer teknologi. Jadi yang akan dipasarkan (di Indonesia) adalah yang di produksi Bio Farma, artinya akan mengusung brand Bio Farma," kata Rini.
Manajer Lapangan Tim Riset Uji Klinis Vaksin Civid - 19 FK Unpad, Eddy Fadlyana, mengungkapkan calon vaksin Covid-19 tersebut memiliki efek samping.
"Bisa timbul nyeri di tempat suntikan atau demam sekitar 30 hingga 40 persen," kata Eddy.
Ketua Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil menjelaskan, kemungkinan ada dua efek samping yang muncul saat pemberian vaksin corona buatan perusahaan China Sinovac Biotech.
"Efek samping yang kita ketahui ada lokal dan sistemik. Kalau (efek) lokal, dilihat ada bengkak atau tidak, kalau ada bengkak berapa centimeter bengkaknya. Kalau merah kaya apa merahnya," tutur Kusnandi dalam konferensi pers di Bandung, Selasa (11/8).
Sedangkan efek sistemik, subjek penelitian akan merasakan perubahan suhu tubuh. Subjek wajib melaporkan kepada tim penanganan jika mengalami reaksi yang dianggap tidak wajar.
"Kalau (efek) sistemik itu panas atau suhu tubuh naik. Nah berapa panasnya," ujar Kusnandi.
Fadly Barjadi Kusuma (32),seorang driver ojek online (Ojol) asal Kecamatan Batununggal, Kota Bandung sudah menjalani ujicoba vaksin Covid-19 di RS Pendidikan Unpad.
"Efek samping itu Alhamdulillah enggak ada juga setelah 24 jam," ujar Fadly, yang sehari-hari bekerja sebagai driver ojek online (Ojol) di Kota Bandung itu.
Hanya saja, ia mengakui setelah disuntik vaksin, beberapa jam setelahnya, ia merasakan kantuk yang hebat. Ia tidak tahu kantuk itu efek vaksin atau bukan.
"Cuma sorenya, kemarin, lima jam setelah penyuntikan, saya merasa ngantuk sekali, ngantuknya enggak biasa. Saya tidurin, pulas. Bangun-bangun tadi pagi dibangunin istri. Enggak tahu apakah efek samping atau bukan," ucap dia.
Sumber :
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20200812090453-199-534755/mengenal-efek-samping-vaksin-china-yang-diuji-di-bandung
https://jabar.tribunnews.com/amp/2020/08/12/begini-yang-dirasakan-relawan-setelah-24-jam-disuntik-vaksin-covid-19-ngantuk-yang-tidak-biasa?page=2
https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/14/070500265/saat-indonesia-disebutkan-akan-mendapatkan-prioritas-vaksin-covid-19?page=1
https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/12/150700265/ini-efek-samping-calon-vaksin-covid-19-yang-diuji-coba-di-bandung?page=1
Komentar
Posting Komentar